Rabu, 08 Juli 2015

BAB II
ANATOMI FISIOLOGI

Anatomi Fisiologi
Pada extremitas inferior terdiri dari tungkai bawah dan tungkai atas terbentuk dari os femur dan os tibia, serta os fibula. Hubungan antara os tibiofibular bersendi maleolus dan talus bagian distall merupakan salah satu persendian pada tungkai bawah yang disebut ankel joint. Seperti halnya persendian lainnya, ankel joint ini juga diperkuat oleh jaringan yang ada disekitarnya berupa ligament dan otot.
Secara anatomis bagian superior dan interior sendi terpisah dari ankle tetapi berperan menghasilkan gerakan assesori untuk menghasilkan gerakan yang lebih luas dari ankle.
             Sendi-sendi ankle joint diperkuat oleh beberapa ligament yang melingkari persendian tersebut dan mengandung fibrokartilago triangularis. Ligament deltoideum dan ligament collateral lateral yang memperkuat hubungan maleolus medial tibia dengan tulang tarsal bagian posterior, calcaneus, talus dan navicular.  
             Ankle joint termasuk sendi synovial hinge joint dibentuk oleh maleolus tibia dan vibula serta talus membentuk tendon dan mortisejoint.



Sendi-sendi ankle joint
1.      Tibio Fibular Joint
Adalah sendi synovial yang dibentuk oleh caput fibula dan facet pada bagian posterior lateral dari tepi condilus tibia, ditopang oleh ligament Introsseus Tibio Fibular serta Ligamen tibio Fibular Anterior dan Posterior yang menghasilkan gerakan dorso fleksi dan plantar fleksi 
2.      Sub Talar Joint
Termasuk sendi synovial plane joint dibentuk oleh permukaan inverior talus dan superior calcaneus yang diperkuat oleh ligament deltoideum, L. Lateral, L. Tallocalcanea Introsseus dan L. Tallocalcanea Posterior dan Lateral, yang menghasilkan gerakan pronasi dan supinasi dan inversi secara passif 
3.      Talonavicular Joint
Sendi ini distabilisasi oleh L. deltoid cruciatum dan L. Talonavicular dorsal. Yang bekerja sama dengan subtalar joint menghasilkan gerak pronasi dan supinasi yang disertai dengan gerakan abduksi/adduksi dan inversi/eversi dengan bantuan navicular.   
4.      Matatarsophalangeal Joint
Pada MTP Joint, ibu jari kaki berbeda dengan lainnya. Karena lebih besar dan memiliki tulang sessamoid diantarnya yang dibutuhkan untuk aktivitas berjalan.      




BAB II
PATOFISIOLOGI

Patofisiologi
             Tulang bersifat relative rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan daya pegas untuk melawan tahanan. Fraktur dapat terjadi akibat :
a.       Peristiwa trauma, sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan dan dapat berupa langsung dan tidak langsung.
b.      Stress atau tekanan yang berulang-ulang sehingga dapat menyebabkan kerapuhan pada tulang dan mudah mengalami perpatahan.
c.       Terdapat faktor abnormal patologi pada tulang misalnya tumor sehingga tulang dengan mudahnya mengalami fraktur.
             Pada fraktur tibia yang paling sering dijumpai yakni fraktur community yang disebabkan karena pukulan langsung atau jatuh.
             Patah tulang ini pada umumya disebabkan oleh trauma langsung. Patah tulang dapat berdiri sendiri (tibia)atau dapat kedua tulang tersebut mengalami fraktur bersamaan. bentuk  fraktur transverse atau dengan displacment (over lapping,angulasi,rotasi)baik satu level(lokasi fraktur sejajar)atau tidak satu level (salah satu garis fraktur di atas atau di bawah )
             Bila fraktur tibia berdiri sendiri, diperlukan immobilisasi dan bila fraktur dengan displacment perlu dilakukan immobilisasi.
             Bila fraktur fibula berdiri sendiri dengan tanpa displacment tidak mutlak perlu immobilisasi karena tulang fibula tidak menumpu tubuh secara langsung dan antara tibia fibula  terdapat septum intrepsseus sebagai pengikat tulang fibula pada tulang tibia, namun bila ragu-ragu, berikan short leg plaster dan jalan dengan FWB sampai lepas immobilisasi
             Dengan fraktur tibia fibula yakni fraktur community dapat diberikan penanganan dengan fiksasi
·         Fraktur stabil: long leg plaster dari lipat paha sampai dengan metatarsal dalam posisi lutut fleksi 5-15 derajat,ankle 90 derajat selama 8-12 minggu
·         Fraktur tidak stabil : Operatif atau traksi dan setalah operatif /traksi masih diberikan eksternal fiksasi yang sesuai dan memungkinkan
              Dengan Penanganan yang lambat ataukah kurang dapat mendatangkan permasalahan baru yang mengakibatkan bertambahnya penderitaan bagi pasien.
·      Kekakuan sendi dapat terjadi. Namun dengan fiksasi internal yang tepat dan mobilisasi lebih awal dapat memperkecil timbulnya gerakan sisa. Non- union kadang-kadang terjadi setelah reduksi dan fiksasi yang tidak memadai pada fraktur melintang.
·      Osteoarthritis fraktur melibatkan sambungan sehingga dapat terjadi Osteoarthritis sekunder jika reduksi kurang sempurna. Keadaan ini biasanya dapat diterapi secara simptomatik.
·      Gangguan nervus yang bersifat dini atau lanjut.

BAB IV
STATUS KLINIK


DATA-DATA MEDIS RUMAH SAKIT
A. Diagnosa medis     : Post op pemasangan internal fiksasi pada fraktur collum humeri   dan collum femur
B. Catatan medis        : Pemasangan plate dan screw
C. Terapi umum          : -

A.    Assesment
a.       Anamnesis
o   Umum
Nama                                 : Tn. Syamsuddin
Umur                                 : 54 tahun
Jenis Kelamin                    : laki-laki
Agama                               : Islam
Pekerjaan                           : Pegawai swasta
Alamat                              : Mamuju
o   Khusus
Keluhan utama                  : Nyeri sekitar insisi
Lokasi keluhan                  : Tungkai bawah sisi dextra
Sifat keluhan                     : Terlokalisir
Kapan terjadi                    : ± 1 minggu lalu yang lalu
Penyebab                           : trauma langsung
RPP                                  : Sekitar 3 tahun yang lalu pasien mengalami kecelakaan motor, kemudian di bawah ke RS. Hikmah untuk di pasang internal fiksasi. ± 1 minggu yang lalu perlepasan internal fiksasi di RS. Yang sama pada saat pemasangan internal fiksasi. Pasien kemudian ke Fisioterapi untuk menjalani perbaikan fungsi dan gerak tungkai sisi dextra.


b.      Inspeksi
Statis
-       Bahu tampak asimetris, dimana bahu bagian kiri lebih tinggi dibandingkan bahu bagian kanan
-       Tungkai bawah kanan eversi
Dinamis
-       Pasien saat mau buang air kecil, pasien agak di bantu oleh keluarganya.
Palpasi
-       Adanya nyeri tekan pada daerah disekitar insisi

c.      Pemeriksaan
1.      Gerakan dasar

Gerakan
Aktif
Pasif
TIMT
Fleksi
Ekstensi

Tidak Nyeri
Tidak Nyeri

Tidak Nyeri
Tidak Nyeri

Tidak Nyeri
Tidak Nyeri

2.      Vital sign
TD                         : 110/80
Nadi                      : 67/menit
Suhu                      : 36oc
Pernapasan            : 22/ menit
3.Pemeriksaan spesifik
·  Panjang tungkai : di ukur dari tuberositas tibia ke malleolus lateral
Kanan       : 40cm
Kiri           : 40cm
·  X-ray        : terlihat pertumbuhan callus pada pada tulang tibia.
·  ROM
ROM Normal : S: 15o.0o.135o
- Aktif
S : 0º.0º.100°
- Pasif
S : 00 .00.1350


B.    Diagnosis Fisioterapi
“Gangguan Fungsional Tungkai Bawah Dextra Akibat Fraktur Shaf Tibia.

C.    Problematik Fisioterapi
-       Nyeri sekitar insisi
-       Keterbatasan ROM knee
D.    Tujuan Fisioterapi
·         Jangka pendek
a.Menurunkan Nyeri insisi
b. Meningkatkan ROM knee
·                               Jangka panjang
Meningkatkan aktifitas fisik dan kemampuan fungsional pasien.

E. INTERVENSI
1. IRR                            : Posisi pasien berbaring di atas tempat tidur, kemudian di lakukan  penyinaran menggunakan IRR pada lengan kanan, tungkai kanan dan
  punggung penderita.
F   : Setiap hari
I   : Normalis
T   : Penyinaran langsung
T   : 10 menit

Tujuan : Untuk melancarkan sirkulasi darah, sebagai preliminary exercise

2. Exercise Therapy
· Strenthening Pasif Exercise
-Otot gastoc
Pasien tidur terlentang, terapis berdiri di samping pasien. Tangan Ftis yang sebelah kiri di knee pasien sebagai fiksasi dan tangan kiri Ftis diletakan punggung kaki sebagai beban atau tahanan, lalu Ftis menyuruh pasien menggerakan tangannya ke arah atas atau dorso fleksi. 8x hitungan dengan 4x pengulangan.
-Otot tibialis anterior
Pasien tidur terlentang, terapis berdiri di samping pasien. Tangan Ftis yang sebelah kiri di knee pasien sebagai fiksasi dan tangan kiri Ftis diletakan telapak kaki sebagai beban atau tahanan, lalu Ftis menyuruh pasien menggerakan tangannya ke arah bawah atau plantar fleksi. 8x hitungan dengan 4x pengulangan.

· Pasif Stretching
- Otot gastroc
Pasien tidur terlentang, ftis berdiri di samping pasien. Tangan kiri ftis di knee sebagai fiksasi dan tangan kanannya memegang telapak kaki pasien, lalu tangan kanan ftis mengulur ke arah ventral. 8x hitungan dengan 4x hitungan
- Otot Hamstring
Pasien tidur terlentang, ftis berdiri di samping pasien. Tangan kiri ftis di pinggul sebagai fiksasi dan tangan kanannya memegang ankle pasien, lalu tangan kanan ftis mengulur ke arah ventral. 8x hitungan dengan 4x hitungan

E.     EVALUASI
a.       Sesaat 
Setelah melakukan terapi, pasien merasakan nyeri berkurang.
b.      Berkala           
Follow – UP
No
Hari / Tanggal
Problematik
Intervensi
Evaluasi
1.
selasa, 20 Okt 2009
-Nyeri sekitar insisi
-Keterbatasan ROM knee

-IRR
-Exercise Therapy
Nyeri sekitar insisi masih terasa, dan ROM masih terbatas.
2.
sabtu, 24 Okt 2009
-Nyeri sekitar insisi
-Keterbatasan ROM knee

-IRR
-Exercise Therapy
Nyeri sekitar insisiberkurang, dan ROM
- Aktif
  S : 0º.0º.100°
- Pasif
  S : 00 .00.1350



Tidak ada komentar:

Posting Komentar